Manusia Jawa, Kehidupannya dan Lingkungan Sekitarnya

Balai Pelestarian Situs Manusia Purba Sangiran

Situs Manusia Purba Sangiran terletak sekitar 15 kilometer utara Solo, Jawa Tengah, Indonesia, di area seluas 5.600 hektar. Menurut UNESCO, (1995) "Sangiran diakui para ilmuwan sebagai salah satu situs yang paling penting di dunia untuk mempelajari fosil manusia". Sangiran menjadi terkenal setelah penemuan peninggalan Homo erectus dan artefak batu terkait (dikenal sebagai "Sangiran Flake Industry") pada tahun 1930-an. Terdapat strtigrafi geologi yang sangat penting sejak Pliosen Atas sampai akhir Pleistosen Tengah yang menggambarkan evolusi manusia, fauna, dan budaya selama 2,4 juta tahun terakhir. Penggalian di situs ini pada tahun 1936-1941 berhasil menemukan fosil hominid pertama. Hingga saata ini, 50 fosil Meganthropus palaeo dan Pithecanthropus erectus /Homo erectus berhasil ditemukan - separuh jumlah fosil hominid dunia dan 65% dari temuan di Indonesia. Sudah dihuni sejak satu setengah juta tahun terakhir, Sangiran adalah salah satu situs kunci untukmemahami evolusi manusia.

Evolusi Manusia
Sifat-sifat kemanusiaan telah terlihat pada fragmen rahang dan beberapa gigi fosil Ramapithecus yang berasal dari Kala Miosen, sekitar 14 juta tahun silam. Namun ciri kemanusian mulai nampak secara jelas dilihat pada Australopithecus, Homo habilis, Homo erectus, dan pada akhirnya tampak secara nyata pada Homo sapiens. Homo erectus Sangiran merupakan hominid yang berhasil keluar dari Afrika 1,8 juta tahun silam dan mendiami pelosok-pelosok bumi. Mereka mampu beradaptasi dengan baik terhadap lingkungan dingin, sedang, dan panas. Jejak-jejak migrasi mereka ditemukan di Ethiopia, Tanzania, China, India, Dminasi, Perancis, Spanyol, Jerman, dan di Sangiran (Indonesia). Homo erectus telah mengembangkan teknologi pembuatan alat batu dan api.
Homo erectus Arkaik
Ditemukan pada lapisan lempung hitam Formasi Pucangan, grenzbank di Sangiran, dan pada lapisan pasir vulkanik di utara Mojokerto (Perning).

Sangiran 4 (S4) adalah Homo erectus Arkaik yang ditemukan di Desa Glagah Ombo pada tahun 1938.

Fragmen tengkorak ini terdiri dari rahang atas dan sebagian tulang wajah. Ditemukan oleh Suherman dan Toto Marsono di tepian saluran irigasi Bapang, Krikilan pada tahun 1978. Dilihat dari morfologi temuan dan lapisan tanah di mana ditemukan, spesimen ini merupakan bagian dari Homo erectus Arkaik yang berusia sekitar 1,5 juta tahun yang lalu.

Fragmen tengkorak bagian belakang dan sebagian atas spesimen S31 ini ditemukan pada tahun 1980 pada Formasi Pucangan berusia sekitar 1,5 juta tahun yang lalu. Kapasitas tengkorak kurang lebih 800-900 cc dan merupakan bagian dari Homo erectus Arkaik, yang hidup di Sangiran pada 1,5 juta hingga 900.000 tahun yang lalu.

Ditemukan oleh seorang penduduk di Perning pada tahun 1936 pada lapisan pasir konglomerat Formasi Pucangan. Morfologi tengkorak yang belum berkembang secara penuh mengindikasikan bahwa individu bersangkutan adalah anak-anak berusia antara 3-5 tahun. Aspek fisik temuan tengkorak anak-anak ini menunjukkan ciri-ciri Homo erectus secara jelas, dengan bagian kening yang menonjol, penyempitan di daerah orbit mata, maupun bagian belakang tengkorak yang meruncing. Dari pengujian potassium-argon terhadap sampel batu apung yang ditemukan di dekat tengkorak tersebut, diperoleh pertanggalan yang sangat tua, 1,9+ 0,4 juta tahun. Melalui metode argon/argon diperoleh pertanggalan 1,81 juta tahun.

Homo erectus Tipik
S17, S2 dan Pithecanthropus erectus (Trinil) adalah contoh Homo erectus Tipik.

Sangiran 17 (S17) adalah tengkorak Homo erectus yang ditemukan oleh Towikromo, seorang warga dusun Pucung pada tahun 1969. Replikanya banyak dipajang di museum bergengsi dunia

Beberapa temuan dari situs Sangiran diidentifikasikan berjenis kelamin wanita, contohnya Sangiran 2 (S2). Struktur fisik tengkorak relatif halus karena insersi otot pada tengkorak tidak berkembang dan bentuk tengkorak Sangiran 2 memiliki bangun tengkorak yang lebih ramping dibandingkan dengan tengkorak laki-laki.

Bangun tengkorak Pithecanthropus erectus dari Trinil sangat pendek namun memanjang ke belakang, dengan kapasitas otak sekitar 900 cc. Tulang kening menonjol dan di belakang orbit mata terdapat penyempitan yang sangat jelas, menandakan otak yang belum berkembang. Pada bagian belakang terlihat bentuk meruncing. Individu ini berjenis kelamin wanita, karena tidak adanya perkembangan relief tengkorak, di mana otot insersi muskuler berkembang.

Homo erectus Progresif
Jenis progresif merupakan jenis Homo erectus yang paling maju, sebagian besar ditemukan pada endapan alluvial di Ngandong (Blora), Selopuro (Ngawi), dan pada endapan vulkanik di Sambungmacan (Sragen). Volume otak sudah mencapai 1.100 cc, dengan atap tengkorak yang lebih tinggi dan lebih membundar.

Ngandong adalah nama sebuah desa di tepi Bengawan Solo, terletak di tengah-tengah hutan jati di wilayah Kabupaten Blora, Jawa Tengah. Penggalian yang dilakukan oleh Ter Haar, Oppenoorth, dan von Koenigswald pada tahun 1931-1933 telah menemukan 11 tengkorak manusia. Temuan ini kemudian dideskripsikan oleh Oppenoorth sebagai Homo soloensis. Tengkorak ini mempunyai bentuk atap lebih bundar dan lebih tinggi sehingga berpengaruh kepada kapasitas otak yang lebih besar dibandingkan dengan temuan di Sangiran dan Trinil, berkisar rata-rata 1.100 cc, sebuah ciri yang telah menunjukkan perkembangan.

Sambungmacan merupakan desa kecil di tepi Bengawan Solo dan termasuk ke dalam wilayah Kabupaten Sragen, Jawa Tengah. Bermula dari penggalian saluran untuk melancarkan aliran Bengawan Solo, penduduk menemukan sejumlah fosil binatang dan manusia.

Geologi Sangiran
Bentuk topografi Sangiran sekarang ini terjadi melalui proses yang sangat panjang, dimulai sekitar 2,4 juta tahun yang lalu. Pada Kala Pliosen, lingkungan Sangiran adalah lingkungan laut dalam. Lapisan lempung biru Formasi Kalibeng merupakan material yang dominan pada saat itu. Pada Awal Plestosen, sekitar 1,7 tahun yang lalu, lahar vulkanik Gunung Lawu Purba diendapkan menjadi lempung hitam Formasi Pucangan. Lahar ini mengubah lingkungan lingkungan Sangiran, dari lingkungan laut dalam menjadi lingkungan rawa. Proses selanjutnya terjadi pada 900.000 tahun yang lalu ketika terjadi erosi di Pegunungan Selatan yang membawa gamping-gamping, serta erosi di Pegunungan Kendeng yang membawa kerikil vulkanik. Material tersebut menyatu di daerah Sangiran, membentuk lapisan yang sangat keras setebal 1-4 meter. Lapisan ini dinamakan grenzbank. Pada saat ini lingkungan Sangiran berubah menjadi daratan sepenuhnya. Periode berikutnya terjadi letusan-letusan hebat gunung-gunung api di sekitar Sangiran. Letusan tersebut mengendapkan jutaan meter kubik material volkanik melalui sungai-sungai yang mengalir menjadi Formasi Kabuh. Lapisan paling atas adalah lapisan Formasi Notopuro yang terdiri dari material volkanik berupa batual andesit berukuran kerikil dan boulder. Proses selanjutnya adalah pembentukan dome dengan puncak kubahnya yang tererosi sehingga sedimen-sedimen berusia jutaan tahun kini tampak sebagai permukaan di Sangiran.
Mari bekerja
"Sangiran Flakes Industry" adalah budaya pembuatan alat batu tertua di Indonesia. Dimulai di Sangiran 1,2 juta tahun yang lalu dan terus berkembang hingga sekitar 250 ribu tahun yang lalu. Penelitian di Dayu pada 2002 menemukan 220 serpih yang terpendam secara in-situ di endapan pasir fluvial-volkanik, di bawah lempung hitam Formasi Pucangan. Alat-alat batu tersebut dikenali dari cara pembuatan dan pemakaiannya. Alat batu dapat dikenal karena terdapat bagian-bagian unik yang menunjukkan adanya ciri buatan manusia seperti bagian bulbus, bagian dorsal, dan bagian ventral. Alat-alat ini sering digunakan dengan indikasi retus pada tajaman. Homo erectus telah memiliki pengetahuan tentang bahan dasar pembuatan alat batu. Mereka memilih bahan-bahan dari kalsedon, gamping kersikan, tuff kersikan, dan andesit kersikan. Bahan-bahan tersebut banyak mengandung silica sehingga dengan sedikit pemangkasan mereka sudah memperoleh sisi tajaman yang dapat dimanfaatkan. Mereka membuat banyak alat batu seperti serpih, bilah, serut, kapak perimbas, penetak, kapak genggam dan bola batu. Alat kecil digunakan untuk mengiris, mengoyak, dan memotong. Alat lebih besar untuk memotong kayu dan tulang, juga untuk memecah biji-bijian berkulit keras.

Perkakas batu berukuran kecil seperti serpih, bilah, dan serut digunakan untuk pekerjaan ringan sebagai alat pengerik, penajam, alat untuk menghaluskan, atau memotong benda berukuran kecil. Sisi serpih, bilah, dan serut mempunyai sisi tajam seperti pisau, dan pada beberapa alat ditemukan adanya retus di kedua sisinya untuk menciptakan tepian yang bergerigi, menyerupai gergaji, Salah satu fungsi alat serpih utama adalah sebagai alat untuk menguliti binatang. Proses memisahkan kulit dari daging ini memudahkan manusia dalam mengolah daging dan kulit untuk berbagai keperluan. Data etnografi menunjukkan bahwa kulit digunakan untuk bahan membuat baju untuk menutup tubuh, juga untuk membuat wadah.

Bahan baku alam seperti jasper dan kalsedon untuk membuat alat dengan ukuran besar seperti kapak sulit diperoleh oleh Homo erectus di Sangiran. Mereka harus mengembara sejauh kurang lebih 30 km untuk mendapatkan bahan yang bagus di Pegunungan Kendeng. Bahan yang tersedia berukuran kecil. Menghadapi situasi ini Homo erectus memanfaatkan bahan yang ada berupa batu andesit-basaltik yang banyak ditemukan di bagian bawah Formasi Notopuro. Temuan kapak perimbas, penetak, dan kapak genggam di aliran Kali Kedungdowo diyakini merupakan lapisan yang mengandung alat batu berukuran besar dari Sangiran.

Alat tulang yang ditembukan di Ngandong berupa sudip dan seruit (harpoon).

Kredit: Cerita

The exhibition was curated by Iwan Setiawan Bimas.
Text and photos : Iwan Setiawan Bimas
Translate : Ike Wahyuningsih and Wuri Hatmani
Edit Video : Puja Apriyanto

Kredit: Semua media
Cerita yang ditampilkan mungkin dalam beberapa kasus telah dibuat oleh pihak ketiga yang independen dan mungkin tidak selalu mewakili pandangan lembaga penyedia konten, yang tercantum di bawah ini.
Terjemahkan dengan Google
Beranda
Jelajahi
Di sekitar
Profil