Pada November 2003, PBB mengakui wayang Indonesia sebagai warisan dunia yang patut dilestarikan. Wayang adalah seni pertunjukan asli Indonesia, dan merujuk ke berbagai macam pertunjukan dengan menggunakan boneka. Namun kadang wayang juga merujuk ke boneka itu sendiri. Kisah-kisah yang tersurat dan tersirat pada cerita Mahabharata dan Ramayana dari India maupun Jawa kuna. Hingga kini Museum Wayang mengkoleksi lebih dari 4.000 buah wayang,

Sejarah Wayang
Wayang sudah ada dan berkembang sejak zaman kuna sekitar tahun 1500 SM, jauh sebelum agama dan budaya dari luar masuk ke Indonesia, ketika nenek moyang kita masih menganut animisme dan dinamisme. Dalam kepercayaan ini diyakini roh orang yang sudah meninggal tetap hidup dan semua benda itu bernyawa serta memiliki kekuatan. Untuk memuja roh ini, mereka mewujudkannya dalam bentuk gambar dan patung roh nenek moyang yang disebut “hyang” atau “dahyang”. Orang bisa berhubungan dengan para hyang untuk meminta pertolongan dan perlindungan melalui seorang medium yang disebut “syaman”. Ritual pemujaan nenek moyang, “hyang” dan “syaman” nilah yang merupakan asal mula pertunjukan wayang. Hyang menjadi wayang dan “syaman” menjadi dalang.
Wayang Surakarta
Dikenal dengan sebutan wayang purwa Surakarta, merupakan wayang yang paling populer karena wiracarita Mahabharata dan Ramayana juga populer di Indonesia.
Tokoh-tokoh wayang kulit purwa jumlahnya lebih banyak banyak dengan karakter beragam. Alur dan garapan isi cerita wayang kulit purwa selalu dapat mengakomodasi berbagai kecenderungan yang berkembang di masyarakat secara aktual.
Ciri khas dari wayang yang berangkat dari budaya keraton memiliki beberapa mazhab seperti gaya cermapanatasan, gaya klathenan, gaya klecan, gaya kartasuran, gaya wonogiren dan gaya Surakarta pesisiran.
Wayang Betawi
Ciri utama kesenian wayang kulit Betawi adalah serba sederhana dalam segala hal, sehingga kadang dianggap kuno.
Kesederhanaan wayang kulit Betawi dapat kita lihat dari segi musiknya.
Gamelan lebih sedikit, terdiri dari terompet, dua buah saron, gedemung, tiga buah ketuk, kromong, gambang, gendang dan gong.
Wayangnya sendiri juga sederhana dengan sunggingan dan teknik warna yang kurang halus, dan jumlahnya juga kurang dari 100 wayang.
Wayang Palembang
Pada saat surutnya kekuasaan Kesultanan Demak dan berdirinya Kerajaan Pajang, beberapa bangsawan Demak memutuskan pindah dan bermukim di Palembang.
Kepindahan tersebut membawa kesenian wayang kulit purwa yang kemudian Berkembang…
...menjadi wayang kulit purwa Palembang yang dikenal hingga saat ini.
Wayang Revolusi
Setelah Indonesia merdeka pada tahun 1945, pulau Jawa masih terus bergejolak dan pada masa itu perhatian terhadap kisah-kisah mengenai penjajah dan isu perang masih sering terdengar. Kondisi masyarakat tersebut membuat RM Sayid tergerak untuk membantu para pemimpin Indonesia dalam membangkitkan dan memperkuat nasionalisme bangsa. Tahun 1950an dibuatlah perangkat wayang khusus untuk mengangkat topik tersebut yang dikenal dengan “Wayang Perdjoeangan” yang saat ini dikenal dengan Wayang Revolusi. Wayang Revolusi ini tidak pernah memiliki naskah cerita tertulis sehingga pergelaran wayang tidak memiliki pakem yang khusus. Pada umumnya pergelaran wayang ini mengambil cerita dari berbagai sumber sejarah nasional Indonesia dan disesuaikan dengan tokoh-tokoh wayang yang ada.
Kredit: Semua media
Cerita yang ditampilkan mungkin dalam beberapa kasus telah dibuat oleh pihak ketiga yang independen dan mungkin tidak selalu mewakili pandangan lembaga penyedia konten, yang tercantum di bawah ini.
Terjemahkan dengan Google
Beranda
Jelajahi
Di sekitar
Profil