Tak hanya banyak fosil dan artefak Homo Erectus, di lapisan stratigrafi situs Sangiran juga banyak ditemukan fosil fauna - hewan laut, reptil, dan vertebrata - tapi mayoritas adalah fosil Stegodon sp., Elephas sp. (gajah)., Cervidae (rusa), Bovidae (kerbau, sapi jantan, sapi) dan Rhinoceros sp. (badak). Manusia dan hewan purba hidup bersama sejuta tahun yang lalu, sampai Homo Erectus memburu hampir semua hewan.

Fosil fauna akuatik Sangiran ditemukan dalam jumlah yang relatif banyak. Tidak kurang dari 6.000 buah fosil moluska seperti Gastropoda dan Bivalvia berhasil diidenifikasi dan sejumlah spesies lainnya seperti penyu, kura-kura, berbagai jenis ikan, dan reptil. Fosil-fosil tersebut tersebar secara vertikal dalam lapisan tanah yang menunjukkan habitat hidup yang berbeda. Tidak hanya ketika Sangiran berada di lingkungan berair asin (laut), tetapi fosil fauna akuatik tersebut hidup dalam lapisan tanah di lingkungan air tawar, baik rawa maupun sungai.

Jenis predator yang hidup di Sangiran adalah reptil berdarah dingin, sang buaya. Ada dua spesies buaya Sangiran sekitar 1,2 juta sampai 500 ribu tahun yang lalu: Crocodylus (buaya muara yang hidup pada masa transisi dari lingkungan pantai dan bakau menjadi daratan), dan Gavialus (buaya sungai). Jenis Gavialus hidup di daerah sungai, dengan bentuk rahang memanjang, cocok untuk memangsa ikan kecil.

Ada dua jenis kuda nil yang pernah hidup di Sangiran, yaitu Hexatoprodon dan Hippopotamus. Dalam suatu penelitian ditemukan fosil Hippopotamus dari Situs Bukuran (Sangiran) pada tahun 1998. Sebanyak 109 fragmen tulang-tulang kuda nil ini terendap di dalam endapan lempung hitam Formasi Pucangan, berusia 1,2 juta tahun silam ketika lingkungan Sangiran dikelilingi oleh rawa-rawa.

Kerbau purba hidup di Sangiran pada Era Plestosen awal hingga Plestosen akhir. Binatang ini mempunyai ciri berupa seepasang tanduk yang permanen dan berongga di tengah, bentuknya memanjang kesamping dan bisa mencapai panjang 1,5 meter. Tanduk tersebut tumbuh tidak lama setelah hewan itu lahir dan terus tumbuh hingga usia tua. Kerbau purba hidup dalam habitat peralihanya itu habitat padang rumput terbuka semak-semak, dan rerumputan tinggi dan habitat rawa. Kerbau memiliki kebiasaan berendam di dalam kubangan air berlumpur dan rawa. Kerbau purba hidup berdampingan dengan Banteng purba. Berbeda dengan kerbau purba, Banteng purba memiliki sepasang tanduk yang membulat dan melengkung keatas. Antelop adalah hewan yang mirip kambing dan merupakan hewan endemik. Ada dua jenis antelop yang pernah hidup di Sangiran yaitu Duboisia santeng dan Epileptobos groenoveldtii yang dapat dibedakan dari ukuran tanduknya. Duboisia santeng memiliki tanduk yang lebih pendek dari jenis Epileptobos groenoveldtii.Kerbau purba hidup di Sangiran pada Era Plestosen awal hingga Plestosen akhir. Binatang ini mempunyai ciri berupa seepasang tanduk yang permanen dan berongga di tengah, bentuknya memanjang kesamping dan bisa mencapai panjang 1,5 meter. Tanduk tersebut tumbuh tidak lama setelah hewan itu lahir dan terus tumbuh hingga usia tua. Kerbau purba hidup dalam habitat peralihanya itu habitat padang rumput terbuka semak-semak, dan rerumputan tinggi dan habitat rawa. Kerbau memiliki kebiasaan berendam di dalam kubangan air berlumpur dan rawa. Kerbau purba hidup berdampingan dengan Banteng purba. Berbeda dengan kerbau purba, Banteng purba memiliki sepasang tanduk yang membulat dan melengkung keatas. Antelop adalah hewan yang mirip kambing dan merupakan hewan endemik. Ada dua jenis antelop yang pernah hidup di Sangiran yaitu Duboisia santeng dan Epileptobos groenoveldtii yang dapat dibedakan dari ukuran tanduknya. Duboisia santeng memiliki tanduk yang lebih pendek dari jenis Epileptobos groenoveldtii.

Mastodon merupakan gajah paling primitif di antara ketiga spesies gajah Sangiran. Dengan postur fisik yang tidak berbeda jauh dengan gajah sekarang, Mastodon memiliki dua gading di rahang atas, dan 2 gading berukuran relative kecil pada rahang bawahnya. Mastodon adalah herbivora pemakan daun-daun dan tunas tumbuhan yang mampu menjelajah habitat hutan yang luas. Stegodon telah hidup dan tersebar di Asia selama Kala Pliosendan Kala Plestosen. Berbeda dengan Mastodon, jenis Stegodon hanya memiliki sepasang gading yang tumbuh pada rahang atas. Ukuran gading Stegodon sangat panjang mencapai 4 meter, sehingga jenis Stegodon memiliki badan berukuran raksasa. Stegodon berkembang dengan baik di lingkungan hutan hujan, lingkungan yang sama di Sangiran pada Formasi Kabuh sekitar 700.000 hingga 300.000 tahun yang lalu. Ketika lingkungan di Sangiran berubah menjadi lebih terbuka, spesies ini mulai punah. Elephas adalah gajah modern yang berbeda dengan gajah sebelumnya. Gadingnya berukuraan lebih kecil dan lurus yang digunakan untuk menumbangkan pohon yang batang dan akarnya menjadi bahan makanannya. Geraham Elephas bermahkota tinggi yang sesuai digunakan untuk mengunyah makanan yang keras seperti rumput kering danbiji-bijian.

Kredit: Cerita

The exhibition was curated by Iwan Setiawan Bimas.
Text and photos : Iwan Setiawan Bimas
Translate : Ike Wahyuningsih and Wuri Hatmani

Kredit: Semua media
Cerita yang ditampilkan mungkin dalam beberapa kasus telah dibuat oleh pihak ketiga yang independen dan mungkin tidak selalu mewakili pandangan lembaga penyedia konten, yang tercantum di bawah ini.
Terjemahkan dengan Google
Beranda
Jelajahi
Di sekitar
Profil