Batik Darah Biru

Galeri Batik YBI

Sejarah batik tak lepas dari kraton Jawa. Batik pertama kali dikenal di masa Kerajaan Majapahit (1293 - 1527), yang mana saat itu hanya lingkungan keluarga kraton saja yang boleh memakainya. Batiknya sendiri dikerjakan oleh wanita-wanita pembantu ratu. Desain motif dipesan pihak kerajaan, bahkan kadang langsung oleh raja, dan hasilnya menggambarkan kekuasaan, kebijakan dan kelimpahan. Karena itu rakyat jelata tidak diperbolehkan memakainya, dan itulah sebabnya batik kraton disebut batik larangan.

Motif Sawat
Memiliki bentuk sayap yang besar dan lebar untuk menggambarkan burung garuda (dari mitor Hindu dan Buddha), kendaraan Dewa Wisnu, salah satu dewa Hindu terkuat. Melambangkan kekuasaan dan raja.
Motif Kawung
Berupa empat lingkaran atau elips yang mengelilingi lingkaran kecil sebagai pusat, dengan susunan memanjang menurut garis diagonal berselang-seling. Melambangkan 4 arah angin atau sumber tenaga yang mengelilingi atau berporos pada pusat kekuatan, yaitu timur (matahari terbit, lambang sumber kehidupan), utara (gunung, lambang tempat tinggal para dewa, tempat roh/kematian), barat (matahari terbenam, turunnya keberuntungan), selatan (puncak segalanya).

Sang raja adalah pusat yang dikelilingi rakyatnya. Kerajaan merupakan pusat seni budaya, ilmu, pemerintahan, agama, dan perekonomian. Rakyat harus patuh pada pusat, dan sebaliknya raja juga senantiasa melindungi rakyatnya.

Kawung juga melambangkan kesederhanaan seorang raja yang selalu mengutamakan kesejahteraan rakyatnya. Motif kawung juga berarti simbol keadilan dan kesejahteraan. Ada beberapa yang beranggapan bahwa kawung adalah buah aren. Pendapat lain mengatakan bahwa kawung merupakan teratai yang telah disederhanakan, simbol kesucian dan kemurnian. Pada era kerajaan Hindu Buddha, teratai merupakan simbol para dewa. Oleh karena itu motif kawung juga dapat diartikan sebagai segala seuatu yang bersifat murni dan suci.

Motif Parang
Berupa garis-garis tegas yang disusun secara diagonal parallel, motif ini kemudian berkembang menjadi beberapa tipe: parang rusak, parang barong, parang kusuma, parang pamo, parang klithik, lereng sobrah. Parang Rusak dikenakan oleh keluarga kerjaan pada acara-acara kenegaraan, melambangkan pertarungan dalam diri manusia untuk melawan kejahatan dan menjadi seorang yang bijaksana dan berakhlak mulia.

Garis-garis lengkung pada motif parang sering diartikan sebagai ombak lautan yang menjadi pusat tenaga alam, dalam hal ini maksudnya adalah raja.

Miringnya motif melambangkan kewibawaan, kekuasaan, kebesaran, serta gerak cepat sehingga pemakainya diharapkan dapat bergerak cepat.

Pada zaman Sri Sultan Hamengku Buwono VIII, motif parang digunakan menjadi pedoman utama untuk menentukan derajat kebangsawanan seseorang, seperti tertulis dalam “Pranatan Dalem asmanipun Panganggo Keprabon Wonten Kraton Nagari Ngayogjakarta Hadiningrat” tahun 1927.

Motif Lereng
Berupa pola baris diagonal di antara motif parang. Motif lereng merupakan salah satu pola lama yang digunakan keluarga kerajaan. Salah satu motif lereng yang sering ditemui adalah udang liris (hujan ringan). Motif lereng melambangkan kesuburan, harapan untuk kemakmuran, tekad untuk memiliki keberanian untuk melaksanakan apa yang penting bagi bangsa dan rakyat.
Kredit: Semua media
Cerita yang ditampilkan mungkin dalam beberapa kasus telah dibuat oleh pihak ketiga yang independen dan mungkin tidak selalu mewakili pandangan lembaga penyedia konten, yang tercantum di bawah ini.
Terjemahkan dengan Google
Beranda
Jelajahi
Di sekitar
Profil