Inul Daratista ShowYes No Wave Music
Musik dansa populer Indonesia
Musik dansa Indonesia yang paling populer di zaman modern adalah Dangdut. Jenis musik ini digemari di hampir seluruh penjuru daerah di Indonesia terutama di bagian barat dan tengah.
Asal Usul Dangdut
Dangdut lahir dari campuran musik Melayu dengan musik dari India dan Arab yang pada awal munculnya disebut Orkes Melayu pada era ‘60an.
Sejak tahun 1970-an dangdut boleh dikatakan telah matang dalam bentuknya yang kontemporer. Sebagai musik populer, dangdut sangat terbuka terhadap pengaruh bentuk musik lain, mulai dari keroncong, rock, reggae, bahkan house music yang mulai muncul pada awal tahun 1990-an.
Dangdut Berdisko
Campuran gaya yang terakhir disebut dengan nama House Dangdut atau Funkot, singkatan dari funky kota. Pada masa itu musik house umum disebut musik funky dan kata kota merujuk pada kawasan diskotik di Jakarta Pusat, tempat di mana musik funkot mulai tumbuh.
House music masuk di Indonesia pada awal tahun 90an yang diwakili oleh maraknya sub-genre-nya yaitu Eurodance dan Acid House yang sering dibawakan oleh DJ-DJ lokal di diskotik-diskotik di Jakarta Pusat. Label-label musik lokal diantaranya seperti Boulevard International, Bulletin, Akurama Records merilis album House remix musik-musik barat populer yang dibuat oleh DJ lokal seperti Jocky Saputra dan Ronny Load. Rilisan tersebut sangat digemari hingga diputar di banyak tempat dan radio mulai dari rumah, restoran, tempat parkir, warung, hingga transportasi publik. Praktek remix yang muncul dalam rekaman tersebut kemudian menjadi trend bagi musisi dan produser musik.
Kompilasi remix musik house '90an
Jangkauannya yang luas ke beragam sendi masyarakat mendorong musisi meremix lagu-lagu populer lokal bahkan tradisional. Tak heran kemudian muncul pencampuran musik house dengan jaipong, keroncong, campursari, tarling, dan tentu saja dangdut. Popularitas dangdut yang masif membuat house versi dangdut paling banyak digemari di seluruh negeri. Di sinilah funkot lahir dengan karakter yang khas. Ia memiliki beat yang sangat cepat hingga 220 BPM dan menjadikannya musik tercepat yang pernah dibuat di Indonesia.
Endang Raes & Dj Lexie - Ronggeng
Sifat dangdut yang terbuka juga membuat funkot bercampur dengan musik lokal lain yang populer di daerah tertentu, misalnya house dangdut minang di Sumatera, house dangdut koplo di Jawa Timur, house dangdut tarling di kawasan pantai utara (pantura) Jawa Barat, kombinasi pop minahasa di Manado dan ratusan gaya hibrid lainnya.
Barakatak
Bersama dengan produser dangdut yang juga DJ house Ronny Load, Barakatak merilis album fenomenal berjudul House Music Vol. 1 dan House Music Vol. 2 pada tahun 1996. Lagu-lagu di album ini yang menggabungkan irama jaipong yang kental sangat disukai.
Funkot mulai redup pada pertengahan tahun 2000-an dan digantikan dengan musik dangdut yang lebih nge-pop. Hal ini dipengaruhi oleh bergesernya pendengar musik ini ke kelas menengah. Dangdut kemudian mulai sering ditayangkan di televisi nasional. Meskipun perlahan menghilang, pola musik funkot kemudian menjadi standar bentuk yang umum dalam produksi musik dangdut di era produksi rekaman digital. Panggung pertunjukan mulai umum di tempat dan skala yang lebih kecil.
Kesaktian Yamaha PSR
Dangdut digital ini dimainkan dalam format sederhana hanya dengan perangkat keyboard midi seperti Yamaha PSR dan vokal saja yang umum disebut dengan ‘organ tunggal’. Format ini menampilkan lebih dari 2 penyanyi yang tampil bergantian dan membawakan lagu-lagu cover version.
Model funkot yang cepat kembali muncul di tahun 2010-an dalam bentuk yang berbeda dan muncul di ranah underground. Maraknya dangdut koplo di Jawa Timur memunculkan house koplo.
Di Sumatera muncul apa yang disebut dengan funky house yang memiliki beat di atas 220 BPM
Bentuk lainnya yang tidak berafiliasi langsung dengan dangdut tapi punya khasanah yang mirip muncul di Papua Barat seperti apa yang mereka sebut Wisisi Musik dan ratusan bentuk hibrid lainnya.
Musik-musik tersebut diproduksi dan dimainkan oleh masyarakat kelas menengah bawah yang memang dekat dengan musik atau kesenian tradisi pada umumnya.
Pada era yang sama muncul gerakan musik elektronik dari anak muda yang aktif di skena musik indie yang mulai mengusung musik house dangdut atau funkot sebagai upaya untuk melawan dominasi musik elektronik yang berorientasi Barat dan identik dengan kelas menengah atas.
Barokka feat. Regals - Barapantura 2.0 (Official Audio Stream)Yes No Wave Music
Di sini house dangdut bertemu dengan drum n bass, dub, hip-hop, breakcore, techno hingga indie pop. DJ atau produser seperti TerbujurKaku, Barokka, Feel Koplo, Libertaria, Prontaxan, Y-DRA dan Gabber Modus Operandi tampil di acara-acara musik underground di bar atau klub kecil.
Seiring dengan maraknya musik indie yang makin banyak digemari, beberapa dari mereka kini juga tampil di festival musik berskala besar baik lokal dan internasional.
Sesuai dengan karakternya yang sangat terbuka dan perkembangan pemikiran dalam budaya dan teknologi, dangdut elektronik akan semakin banyak melahirkan subgenre baru. Nantinya ia akan bertemu dengan gaya serupa dari budaya lain seperti Budot dari Filipina, Morlam dari Thailand/Laos, Singeli dari Tanzania, Cumbia asal Kolombia atau baile funk Brasil. Pertemuan-pertemuan dari dunia selatan ini akan membawa musik masyarakat grassroot gantian menginspirasi musik elektronik atau club music barat.
Tertarik dengan Seni Pertunjukan?
Dapatkan info terbaru dengan Culture Weekly yang dipersonalisasi
Anda sudah berlangganan.
Culture Weekly pertama Anda akan tersedia minggu ini.